Musim Natal menghadirkan nuansa nostalgia dan kegembiraan, yang sebagian besar dipengaruhi oleh film-film yang kita tonton bersama orang-orang terkasih selama masa perayaan ini. Selama bertahun-tahun, banyak film telah menangkap keajaiban Natal, menceritakan kisah-kisah cinta, keluarga, dan keajaiban. Berikut adalah daftar 9 film Natal teratas yang telah teruji oleh waktu, menghibur berbagai generasi, dan menjadi bagian dari tradisi liburan. Film-film ini tidak hanya menghangatkan hati, tetapi juga sarat dengan sejarah yang menarik, anekdot yang berkesan, dan lokasi-lokasi yang ikonik.
1: It’s a Wonderful Life (2 jam 10 menit)
It’s a Wonderful Life karya F rank Capra tetap menjadi salah satu film klasik Natal yang paling digemari. Dirilis pada tahun 1946, film ini mengisahkan kehidupan George Bailey, seorang pria yang mengorbankan mimpinya demi keluarga dan komunitasnya. Pada Malam Natal, keputusasaan George mendorong campur tangan ilahi, yang menuntun seorang malaikat, Clarence, untuk menunjukkan kepadanya dampak dari hidupnya. Tema utama cerita ini adalah nilai setiap individu, yang membuatnya disukai secara universal.
Difilmkan terutama di RKO Radio Pictures’ Ranch di Encino, California, adegan Bedford Falls yang bersalju dalam film ini dibuat dengan teknik pembuatan salju inovatif yang menggantikan penggunaan cornflake tradisional. Teknik ini meraih Academy Award untuk Prestasi Teknis. Meskipun saat ini berstatus sebagai film wajib liburan, film ini awalnya mengecewakan di pasaran tetapi mendapatkan popularitas setelah memasuki ranah publik dan disiarkan di televisi selama Natal.
Salah satu anekdot yang lucu melibatkan aktor Lionel Barrymore, yang memerankan Mr. Potter yang jahat. Barrymore, yang dikenal karena kepribadiannya yang seperti Scrooge, ironisnya membantu memperkuat pesan utama film tersebut tentang komunitas dan kemurahan hati.
2: Home Alone (1 jam 43 menit)
Dirilis pada tahun 1990, Home Alone adalah sebuah mahakarya komedi yang berpusat pada Kevin McCallister, seorang anak berusia delapan tahun yang tidak sengaja tertinggal saat Natal. Kevin menangkis pencuri yang ceroboh, memamerkan jebakan yang cerdik dan humor slapstick yang telah menjadi ikon. Disutradarai oleh Chris Columbus dan ditulis oleh John Hughes, film ini melambungkan Macaulay Culkin ke puncak ketenaran.
Difilmkan di daerah Chicago, lokasi-lokasi penting termasuk rumah keluarga McCallister di Winnetka, Illinois. Sebuah gimnasium di sekolah menengah terdekat diubah menjadi ruang studio untuk pengambilan gambar di dalam ruangan. Salju palsu yang digunakan dalam adegan luar ruangan kemudian disumbangkan ke produksi White Christmas di teater lokal.
Salah satu anekdot legendaris melibatkan Joe Pesci yang sengaja menghindari Culkin selama syuting untuk membuat penggambarannya tentang Harry yang mengancam menjadi lebih autentik. Pesci juga secara tidak sengaja menggigit Culkin selama sebuah adegan, meninggalkan bekas luka kecil di jari sang aktor—sebuah kisah yang masih diceritakan Culkin dengan nada jenaka.
3: Elf (1 jam 37 menit)
Penggambaran Will Ferrell sebagai Buddy si Peri dalam komedi tahun 2003 ini telah menjadi identik dengan keceriaan liburan. Disutradarai oleh Jon Favreau, film ini mengikuti Buddy, seorang manusia yang dibesarkan oleh para peri, saat ia melakukan perjalanan ke New York City untuk berhubungan kembali dengan ayah kandungnya. Campuran humor slapstick dan momen-momen yang menyentuh hati menjadikan Elf sebagai film klasik modern.
Film ini difilmkan di New York City dan Vancouver, dengan lokasi nyata seperti pusat perbelanjaan Gimbels dan Central Park memainkan peran penting. Menariknya, komedi fisik Ferrell membutuhkan ketahanan yang signifikan, terutama saat berlari melalui Terowongan Lincoln dengan kostum.
Produksi ini dipenuhi dengan anekdot yang menarik, seperti Ferrell yang menahan nafsu makan setelah mengonsumsi sirup maple asli pada spaghetti—makanan khas Buddy. Meskipun awalnya skeptis, nada film yang aneh telah membuatnya menjadi favorit abadi.
4: Kisah Natal (1 jam 34 menit)
Dirilis pada tahun 1983, A Christmas Story mengisahkan petualangan Ralphie Parker muda mencari senapan Red Ryder BB, meskipun setiap orang dewasa memperingatkannya bahwa ia akan “menembak matanya sendiri.” Disutradarai oleh Bob Clark dan berdasarkan kisah semi-otobiografi Jean Shepherd, film ini merupakan gambaran nostalgia Amerika tahun 1940-an. Perpaduan humor, dinamika keluarga, dan semangat Natal menjadikannya film favorit yang tak lekang oleh waktu.
Proses syuting utamanya dilakukan di Cleveland, Ohio, dan Toronto, Kanada. Rumah keluarga Parker di Cleveland kini telah diubah menjadi museum yang didedikasikan untuk film tersebut, lengkap dengan lampu kaki di jendelanya. Salah satu adegan yang paling berkesan, saat teman Ralphie, Flick, terjebak lidah di tiang bendera yang membeku, direkam menggunakan sistem vakum untuk menciptakan ilusi.
Menariknya, lampu kaki, yang telah menjadi simbol ikonik film tersebut, dibuat khusus untuk produksi. Popularitasnya melahirkan banyak replika, dan para penggemar sering membuat ulang adegan lampu tersebut sebagai bagian dari dekorasi liburan mereka. Shepherd, yang menjadi narator film tersebut, bahkan muncul sebentar sebagai pelanggan yang pemarah di toko serba ada Higbee’s Santa Line.
5: Polar Express (1 jam 40 menit)
Film animasi tahun 2004 karya Robert Zemeckis berjudul The Polar Express didasarkan pada buku anak-anak yang sangat disukai karya Chris Van Allsburg. Film ini menceritakan kisah seorang anak laki-laki yang menaiki kereta ajaib menuju Kutub Utara pada Malam Natal, dan menemukan kekuatan keyakinan di sepanjang perjalanan. Film ini menjadi terobosan karena penggunaan teknologi penangkapan gerak, dengan Tom Hanks memainkan banyak peran, termasuk kondektur kereta, ayah anak laki-laki tersebut, dan bahkan Sinterklas.
Produksi tersebut melibatkan tahap-tahap perekaman gerak yang canggih, dengan para aktor yang memerankan adegan mereka sambil mengenakan pakaian khusus yang dilapisi sensor. Pendekatan ini menghadirkan gaya visual yang unik pada film tersebut, tetapi juga memicu perdebatan tentang efek “lembah misterius” dalam animasi. Musik latarnya, khususnya lagu “Believe” oleh Josh Groban, langsung menjadi hit di hari libur, dan mendapatkan nominasi Academy Award.
Kisah di balik layar yang menarik adalah dedikasi Hanks dalam memerankan beberapa karakter. Dalam satu adegan, ia berganti peran sebagai konduktor dan Sinterklas, menunjukkan jangkauan dan komitmennya. Warisan film ini mencakup peningkatan jumlah perjalanan kereta bertema di seluruh Amerika Serikat, tempat keluarga dapat menciptakan kembali perjalanan ajaib tersebut.
6: Liburan Natal National Lampoon (1 jam 37 menit)
Komedi tahun 1989 ini, yang disutradarai oleh Jeremiah S. Chechik, mengikuti tekad Clark Griswold untuk menyelenggarakan Natal keluarga yang sempurna, tetapi semuanya menjadi tidak terkendali. Dari kalkun yang terlalu matang hingga pertunjukan pencahayaan yang buruk, film ini menangkap kekacauan dan humor musim liburan.
Difilmkan terutama di California dan Colorado, rumah Griswold terletak di belakang studio tetapi menjadi gambaran ikonik keceriaan liburan di pinggiran kota. Komedi fisik Chevy Chase sangat menonjol, terutama dalam adegan di mana ia memanjat ke atap untuk menggantung lampu, tetapi jatuh berulang kali.
Salah satu anekdot yang paling lucu adalah adegan tupai, yang direkam dengan tupai sungguhan hingga hewan itu mati secara tiba-tiba. Para kru bergegas mencari pengganti, dan akhirnya mengandalkan versi animatronik untuk beberapa adegan. Warisan film ini bertahan lama, dengan dialog-dialognya yang terkenal dan humor yang berlebihan menjadi hal pokok dalam maraton film liburan.
7: White Christmas (2 jam)
Musikal tahun 1954 ini menampilkan Bing Crosby, Danny Kaye, Rosemary Clooney, dan Vera-Ellen dalam kisah mengharukan tentang dua penghibur yang bekerja sama untuk menyelamatkan penginapan di Vermont yang sedang kesulitan. Menampilkan lagu-lagu yang tak terlupakan dari Irving Berlin, termasuk lagu utama “White Christmas,” film ini adalah tontonan Technicolor yang tetap menjadi favorit.
Difilmkan di panggung Paramount, produksi ini menampilkan set yang rumit dan kostum yang memukau. Nyanyian Bing Crosby dan tempo komedi Kaye menjadi sorotan, sementara nyanyian Clooney dan tarian Vera-Ellen menambah pesonanya.
8: How the Grinch Stole Christmas (1 jam 50 menit)
Adaptasi live-action dari film klasik Dr. Seuss How the Grinch Stole Christmas yang disutradarai oleh Ron Howard dan dirilis pada tahun 2000, menghidupkan dunia Whoville yang penuh keajaiban dengan sangat rinci. Jim Carrey berperan sebagai Grinch, seorang penyendiri yang berencana merusak Natal bagi penduduk Whoville yang ceria, tetapi kemudian menemukan kembali makna sebenarnya dari hari raya tersebut. Produksi film yang memukau secara visual, narasi yang menyentuh hati, dan penampilan transformatif Carrey menjadikannya film favorit di hari raya bagi penonton dari segala usia.
Desain set Whoville, yang dibangun di belakang Universal Studios di California, merupakan prestasi imajinasi dan seni. Detail kota yang rumit, dipadukan dengan sarang Grinch di pegunungan, dengan sempurna menangkap pesona eksentrik ilustrasi Dr. Seuss. Di balik layar, produksi menghadapi serangkaian tantangannya sendiri, khususnya dengan proses tata rias Jim Carrey yang ekstensif. Aktor tersebut menghabiskan waktu berjam-jam setiap hari dalam pakaian prostetik seluruh tubuh, sebuah proses yang sangat melelahkan sehingga Carrey membandingkannya dengan penyiksaan. Untuk mengatasinya, Carrey dilaporkan menjalani pelatihan dari seorang mantan agen CIA untuk menahan ketidaknyamanan, sebuah kisah yang sejak itu menjadi anekdot legendaris tentang film tersebut.
Salah satu momen yang paling berkesan dari film ini adalah klimaks emosionalnya, saat hati Grinch membesar tiga kali lipat. Adegan ini menjadi lebih hidup dengan campuran efek praktis dan penampilan Carrey yang penuh nuansa, yang menunjukkan kemampuannya untuk memadukan komedi dengan kedalaman emosional yang sesungguhnya. Film ini sukses secara komersial, menjadi film liburan terlaris kedua sepanjang masa. Pengaruhnya terus berlanjut, dengan atraksi bertema Whoville yang muncul di taman hiburan Universal Studios selama musim liburan.
9: The Santa Clause (1 jam 37 menit)
Peran utama pertama Tim Allen dalam film The Santa Clause (1994) tetap menjadi kisah mengharukan tentang transformasi dan keyakinan. Disutradarai oleh John Pasquin, film ini mengikuti Scott Calvin, seorang ayah yang bercerai yang secara tidak sengaja menyebabkan Sinterklas jatuh dari atap rumahnya pada Malam Natal. Scott mengenakan kostum Sinterklas, tanpa sadar mengikatkan dirinya pada kontrak ajaib yang mengubahnya menjadi Sinterklas baru. Saat Scott menghadapi perubahan fisik dan emosional, film ini mengeksplorasi tema tanggung jawab, keluarga, dan keajaiban Natal.